Selasa, 27 Mei 2008

refleksi....rabu,28 mei 2008

“ Kereta” Ini tidak boleh berhenti

Jalanya lambat dan tersendat, suasana gerbongnya yang tidak nyaman, lebih sering rusak dari pada beroprasi, serta selalu membuat banyak orang mengeluh, mencaci dan mengumpat. Itulah gambaran fisik sebuah kereta tua.
Kereta tua. Kendaraan itu sering kali di analogikan untuk sebuh kehidupan yang tidak produktif, statis, lamban dalam bergerak, atau mungkin tidak berjalan sama sekali, seperti air yang tergenang yang justru kehadirannya saja sudah menimbulkan banyak masalah bagi lingkungan sekitarnya.
Hidup bak kereta tua bukan saja tidak enak di pandang orang, tetapi kita yang merasakannya juga sangat tidak nyaman. Hari- hari berlalu tanpa arti, tanpa semangat, tanpa gerak, dan tanpa amal yang nyata. Padahal semua orang terus berpacu dengan waktu, untuk sebuah prestasi yang mungkin akan menjadi sejarah yang bermanfaat bagi orang-orang yang lahir setelahnya, atau minimal menjadi kenangan manis di hari-hari tuanya.
Karena itu, kita harus melakukan maksimalisasi dan ekselerasi, pada semua hal dalam hidup kita, agar ia terus berjalan, berfungsi dan bermanfaat. Tidak seperti kereta tua. Hanya saja, menggerakkan lokomotif hidup ini membutuhkan sumber energy yang banyak, agar ia tidak bergerak cepat, namun tiba-tiba berhenti dalam waktu yang lama. Berikut ini beberapa bekal yang perlu di persiapkan.

Pertama ,
Bekali Diri dengan Keyakinan yang Kuat dan Bersih Keyakinan yang dalam bahasa islam di sebut aqidah, merupakan amunisi utama yang dapat menggerakkan dan menciptakan makna dan manfaat bagi hidup kita. Tidak ada energy perubahan selain kekuatan dan kehendak Allah tentunya yang mendorongnya lebih hebat dari keyakinan. Tapi keyakinan bukanlah sembarang keyakinan. Keyakinan itu haruslah bersumber dari Allah SWT, yang kuat dan bersih, tidak di campuri virus kotor sedikit un, apapun bentuknya. Karena itulah yang akan memberi energy serta menunjukkan arah yang jelas dan lurus untuk bertindak.
Kisah Nabi Musa.as merupakan contoh keyakinan yang sempurna kepada Allah swt. Sewaktu dirinya berhdapan dengan laut dengan ombaknya yang menggunung, sementara fir’aun yang terus mengejar dari belakang, semua pengikutnya berkata “kita semua akan tertangkap.” Tetapi Musa menenangkan mereka, “sekali-kali tidak akan menyusul.”
Maha Suci Allah, ketika itu Musa dengan penuh keyakinan, ia berjalan di tengah laut. Karena ia sangat percaya bahwa Allah akan menyelamatkan dirinya dari kepungan fir’aun dan pasukannya. ”Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku,” Tegasnya.
Kisah Nabi Nuh as lain lagi, Allah mengabarinya bahwa tidak ada lagi kaum yang akan beriman kecuali mereka yang memang telah beriman. Lalu Allah pun memerintahkan nya membuat kapal di atas puncak gunung yang sangat tinggi, karena Allah akan mengirimkan bencana banjir untuk memusnahkan kaumnya yang durhaka.
Dengan keyakinan yang kuat, tanpa sepatah pertanyaan ia bersegera mulai menjalankan perintah Rabbnya, meskipun mendapatkan ejekan dan cemoohan dari kaumnya yang menganggapnya sudah tidak waras. Tapi akhirnya keyakinan Nabi Nuh as mengalahkan olok-olokan mereka. Allahpun menyelamatkan orang-orang yng beriman dan menenggelamkan mereka yang tidak pnya keyaknan. Lalu mengubah dunia ini dengan mengganti dengan kaum yang ingkar dengan kaum yang shalih.
Keyakinan pula yang mempercepat langkah seorang Salman Alfarisi dalam mencari kebenaran dengan berani meninggalkan sanak keluargnya dan semua kemewahan hidup di negrinya, Persia menuju mekkah untuk menemui Rosulullah dan para pengikutnya.
Kisah diatas semua menjadi bukti, bahwa untuk megubah hidup ini agar tidak menjadi kereta tua, haruslah di mulai dengan menghadirkan keyakinan dalam diri kita. Karena keyakinan itu akan menuntun kita untuk segera melakukan perubahan.

Kedua,
jangan sampai kehilangan semangat keyakinan yang benar, memancing sebuah semangat. Jika semangat itu kuat dan terus menggelora, maka ada konsekuensi yng musti kita penuhi ; berbuat untuk merealisasikannya. Jika tidak, perlahan tapi pasti, kobaran semangat itu akan redup, seredup cahaya hidup kita.
Ibnu Jauzi berkata, “ Barang siapa yang tinggi semangatnya, maka akan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan tidak akan pernah puas dengan yang sebagian saja. Ia akan menuntut ilmu sampi puncaknya.” Kira-kira seperti itulah konsekensinya.
Melayani semua keinginan semangat itu, tentu yang menanggung beban beratnya adalah badan kita. Ia akan merasa capek, lelah, kurang tidur, atau mungkin sakit. Tapi ia melakukannya untuk sebuah tujuan mulia: amal, prestasi dan cita-cita.paling tidak, kehidupan esok harus berbeda dengan hari ini. Intinya, harus ada perubahan. Itulah, sebabnya kita rajin melakukan sholat dan belajar di tengah malam, atau berpuasa di siang hari. Meskipun itu sangat berat dan sulit. Mungkin ada perasaan ingin konsentrasi pada ilmu dan amal itu saja, tetapi kebutuhan akan dunia masih banyak, sehingga bekerja untuk hajat dunia pun di lakukan tanpa melalaikan ilmu dan amal. Berat dan sungguh berat menggabungkan semuanya.
Tapi lihatlah hasilnya, ilmu menyuruh kita untuk melakukan kedermawaan, atau mendahulukan orang lain karena kita tidak kuat untuk kikir. Kedermawanan telah menyuruh kita mengeluarkan apa yang kita miliki. Harga diri mencegah kita untuk mencari nafkah dengan cara-cara yang buruk. Karena semangat itu, hiduppun menjadi sangat dinamis karena selalu melakukan hal-hal baru, baik dan positif, untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Tidak ada kata berhenti. Istirahat seolah menjadi stasiun perpindahan dari kesibukan satu ke kesibukan yang lain.
Bagi badan yang tidak sanggup memikul beban itu, ia akan membiarkan semangatnya memudar. Kelalaian bukanlah aib dan tidak akan merasa kecewa meski semua orang meninggalkannya. Hidup seperti kereta tua tidaklah masalah baginya. Janganlah sekali-kali kita mengikuti prinsip ini, karena dunia adalah tempa berlomba untuk memperoleh yang tertinggi. Sebagai manusia beriman, tidak sepantasnya kita menyepelekan lomba itu, lalu membirkan semangat kita padam sia-sia. Sebab, setelah berlomba ternyata tujuan yang kita ingin. Karena jika maksud kita tercapai, memang itu tujuannya; tapi jika telah berlomba namun tidak tercapai apa yang kita inginkan, kita tidak akan di hinakan.
Ketiga,
Jangan Pernah Takut untuk Berbuat stagnasi dalam hidup tidak serta merta hilang lantaran kita sudah memiliki keyakinan dan semangat. Sebab kedua hal tersebut baru merupakan modal awal yang akan menggerakkan jiwa dan raga. Selanjutnya, kita memerlukan kesungguhan dalam gerak itu sendiri. Itulah yang kita sebut dengan tindakan. Sebab itu, maka Umar ra sangat tidak suka

1 komentar:

Jogja Self Defense (JSD) mengatakan...

Subhanallah ukhty....., padat dan penuh taushiah postingannya, tapi itu postingan di bulan mei ya..., ayo, posting lagi tuk refleksi bulan agustus, tentang kemerdekaan kali ya hehehee, slam kenal en ditunggu junjungan baleknya ya....keep on praying....:-)